Hukuman…Bending!

Si Fulan Bending, karena masuk perpustakaan sementara kakinya kotor..!!”, Perintah salah satu Guru. “ Dan Si Fulan juga bending, karena keluar ruang belajar tanpa alas kaki..!”. Kebiasaaan ini, masih kita jumpai diinstitusi pendidikan masih menerapkan punishment, sebagai bentuk sanksi. Dan lebih parahnya sanksi yang diterapkan tidak “mengarahkan” nalar siswa dengan benar.

 

Bending, merupakan salah satu olah raga untuk melatih fisik yang cukup baik. Namun,..akan lain maknanya, bila bending ini telah digunakan sebagai salah satu bentuk hukuman yang digunakan oleh Guru/Faslilator ke siswa yang melanggar aturan yang ditetapkan.

Bending, pada dasarnya untuk siswa juga ada manfaatnya agar fisiknya terlatih. Namun apakah tidak cara ain yang tidak dikaitkan dengan hukuman karena sesuatu hal? Misal dimasukkan dalam salah satu acara senam dilakukan tiap pagi yang dilakukan bersama-sama?

Bukankah kita pingin melatih nalar siswa dan juga melatih kesadaran siswa agar melakukan sesuatu bukan karena takut hukuman namun karena kesadaran pada dirinya untuk melakukan sesuatu? Bukankah nalarnya bisa lebih mudah dicerna bila dijelaskan sebab akaibat yang “masuk akal”? Bila sekiranya ruangan perpustakaan kotor karena siswa masuk dengan kaki yang “kotor”, sebagai konsekuensinya si siswa “diajak” membersihkan, akan lebih mudah diterima oleh siswa daripada dikaitkan dengan “hukuman”, bending!. Bila sekiranya, siswa keluar ruangan belajar tanpa alas kaki, bukankah akan lebih baik di jelaskan manfaat menggunakan alas kaki. Misal, kalau ada duri yang terinjak tidak langsung kena kaki, namun masih ada pelindung alas kaki, ketika masuk ruangan yang “bersih”, naggak perlu cuci kaki dulu sehingga bisa langsung masuk ruangan, dll.

Lantas adakah korelasi yang “pas” antara bending dengan pelanggaran siswa yang masuk ruangan dengan kaki yang kotor? Kalaupun ada hubungan, tentunya korelasi yang dipaksakan!!!

Kan lebih bijak bila melatih siswa dengan nalar yang “benar”! Bukan hanya sekedar kepatuhana terhadap suatu aturan karena takut suatu hukuman, namun kepatuhan karena kesadaran! Sehingga ada atau tiada yang mengawasi, akan tetap melakukan aturan yang telah disepakati, the right way!.

Bila sekiranya ada pola didik yang kurang pas, akan lebih terhormat untuk mengoreksi dan menganulir apa yang pernah diterapkan di hadapan para siswa, sehingga mind set siswa bisa terkoreksi walaupun tidak semudah menghapus tulisan yang salah di papan tulis.(Mr. Clear)

Leave a Reply